Si Bucins

Haiiii…

Aku ingin cerita sedikit, nih.

Ini tentang salah satu temanku di kampus, terbilang akrab denganku, sih. Dia itu orangnya mudah suka sama cowok. Kebayang, gak?

Dia itu rada lebay, jutek, tapi hatinya itu loooh, rentan banget sama rayuan cowok. Dia orangnya mudah baperan, jadi harus ada orang yang nasihatin dia supaya gak salah langkah.

Dia mudah disakitin sama mantan-mantannya, tapi dia cepat move on juga. Bagus, sih, kalo move on nya cepet.

Dan beberapa bulan lalu, dia memulai pdkt-nya dengan seorang senior yang kalo menurutku dia baik, alim. Sholat aja tepat waktu gitu.

Dia udah punya pacar, btw. Mereka LDR-an

Dan temanku yang bucin gak ketulungan ini, gak akan nyerah sebelum janur kuning melengkung. Aku tau banget.

Tapi… dalam hal ini, dia gak bisa disebut tersangka. Tidak bisa disalahkan sepihak.

Sebagai pacar yang baik, dia seharusnya enggak membuka pintu buat orang lain, dia saat dia sendiri punya seseorang, kan?

Menurut kalian gimana?

Aku gak bisa apa-apa kalo temanku udah sebucin itu. Dan aku gak bisa menyalah dia atau pun si cowok, soalnya selama 20 tahun ini aku gak pernah ngalamin yang namanya suka-sukaan, jadi aku gak tau rasanya jadi bucin.

Ini kenyataannya. Temanku pun merasa miris dengan aku yang begini.

But, this is me…

2/4-19

Me and friends

Annyeong…

Aku mengetik ini pada tengah malam dan ini akan sangat mengganggu jika tidak aku curahkan.

Kalian pernah tidak berada di posisi seperti ini… Ekhm, di mana teman kalian yang satu tidak mau menerima teman kalian yang lain karena suatu alasan?

Aku merasa berada di posisi serba salah. Sekaligus, aku merasa miris.

Aku tidak mungkin menjauh dari si B karena si A tidak suka, sementara si B saat ini sangat bergantung dan butuh bantuanku.

Aku sadar dengan kekurangan si B. Dia aneh. Aneh maksudku di sini adalah sifatnya. Kadang pikirannya terlihat kosong. Aku tidak pernah tahu apa yang dia pikirkan. Sungguh.

Tapi… meski begitu, dia sangaaaaat baik. Aku tidak berbohong untuk yang satu ini. Setelah kuamati, ternyata dia bukanlah tipe orang yang mudah membenci orang lain. Aku terkagum karena hatinya sebaik itu.

Sulit menemukan seseorang seperti itu di dunia ini, bukan?

Sebagai seseorang yang tertarik dengan pelajaran Psikologi, aku tidak akan pernah membiarkan diriku terpengaruh omongan sampah orang lain.

Yap. Teman ku si A menjauh, mulai dekat dengan orang lain. Tentu saja, dia yang awalnya dekat denganku, lalu tiba-tiba saja seperti orang asing akan menimbulkan banyak spekulasi.

Tapi, aku menemukan satu pelajaran di kejadian ini.

Aku yang awalnya mengira si A orang yang tidak pilih dalam berteman, ternyata semunafik itu. Jujur saja, aku ilfeel dibuatnya.

Sejak awal aku sadar, dia bukan tipe temanku, sama sekali. Tapi itu tidak masalah bagiku sebelum akhirnya aku menemukan sifatnya yang lain.

Fyi saja, aku adalah tipe orang yang mementingkan first impression. Aku tidak akan berpura-pura senang dengan orang yang tidak aku sukai. Aku tidak ingin menyiksa diri. Maaf saja.

Aku pribadi introvert. Aku suka mengamati sekitar, juga prilaku orang lain. Dan, ya, aku bukan orang yang akan mengemis demi kata ‘pertemanan’ jika orang itu kurasa tidak pantas menyandang label itu.

Sekian.

21/3-19

Intro

Annyeong…

Hari ini, tanggal 17 Maret, aku dibuatkan blok oleh salah satu teman dekatku yang kebetulan punya hobi yang sama denganku, yaitu menulis.

Karena ini blog pertamaku, aku tidak akan membahas sesuatu yang berat-berat. Melalui media satu ini, aku ingin menceritakan kepada kalian tentang kisah keseharianku dan segala sesuatu di sekitarnya.

Alasanku menulis di sini adalah karena aku ingin berbagi dengan kalian. Mungkin saja kita pernah mengalami masalah atau kekonyolan yang sama, who knows? Hidup ini penuh dengan kejutan, bukan?

Kalau begitu…

See you next time, guys… 💜💜